Tips Berbisnis Dengan 10 Budaya Global

Tips Berbisnis Dengan 10 Budaya Global

Bisnis harus menyesuaikan karena mereka berurusan dengan budaya yang berbeda.

Bisnis yang berusaha menaklukkan pasar baru tidak hanya khawatir tentang pemasaran dan logistik. Mereka juga perlu mempertimbangkan kebiasaan bisnis lokal di wilayah baru tempat mereka bekerja.

Melakukan bisnis dengan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda dapat menjadi tantangan. Memperhatikan komunikasi yang efektif tidak akan cukup. Sangat penting untuk peka terhadap pertimbangan budaya.

Berikut ini adalah perbedaan budaya yang menonjol di antara pebisnis dan pelanggan di pasar global teratas di luar Amerika Serikat.

1. Jepang: Negara berteknologi tinggi yang masih menggunakan kartu nama fisik

Ekonomi terbesar ketiga di dunia adalah salah satu negara pertama yang merangkul revolusi digital, tetapi tidak meninggalkan kartu nama tradisional. Disarankan untuk menyiapkan tumpukan kartu ini ketika berhadapan dengan profesional bisnis Jepang. Kartu nama adalah bagian dari tradisi bisnis yang unik. Mereka harus dilewatkan dengan kedua tangan dan diterima dengan cara yang sama oleh penerima dengan kedua tangan.

Lebih jauh lagi, Jepang dikenal sangat menghargai usia dan status. Pastikan untuk menunjukkan kesopanan atau rasa hormat kepada orang-orang yang cukup umur dan mereka yang memegang otoritas, sebagai cara untuk menunjukkan rasa hormat.

2. Inggris Raya: Menggunakan humor dan ketidaklangsungan untuk menghindari konflik

Budaya bisnis Inggris cenderung menjauh dari pernyataan langsung, untuk menghindari konflik dan menunjukkan kesopanan. Tidak setuju dengan seseorang secara langsung dianggap tidak sopan. Bersikap lugas dapat dipandang sebagai arogan, kasar, atau agresif. Ini dapat mempengaruhi kemungkinan membangun hubungan bisnis yang baik.

Selain itu, ada baiknya menggunakan humor untuk meringankan suasana hati. Orang Inggris dikatakan menyukai humor yang kering dan jenaka. Namun, jika Anda tidak menganggap lelucon Inggris itu lucu, jangan lupakan nilai ketidaklangsungan. Senyum atau tawa palsu jika memungkinkan, dan jangan pernah menunjukkan reaksi meremehkan atau mencemooh.

3. India: Perhatian bahasa tubuh sangat membantu

Menyadari dan mempraktekkan bahasa tubuh dalam budaya bisnis India dapat disamakan dengan melakukan yoga. Ada banyak hal yang perlu diingat. Beberapa yang menonjol adalah sebagai berikut:

  • Lakukan pose “Namaste” saat mengucapkan halo atau selamat tinggal dengan menyatukan kedua telapak tangan, dengan jari-jari menyentuh dan menunjuk ke arah langit.
  • Saat berjabat tangan atau menawarkan dan menerima hadiah, uang, cek, dan kartu nama, gunakan kedua tangan atau tangan kanan Anda.
  • Jaga agar kaki Anda tetap rata di tanah dan jangan pernah mengarahkan jari kaki atau telapak kaki Anda ke siapa pun. Juga, jangan pernah mengarahkan jari Anda pada siapa pun.
  • Lepaskan alas kaki Anda saat Anda memasuki rumah seseorang.
  • Jika alas kaki atau kaki Anda menyentuh seseorang, pastikan untuk segera meminta maaf.
  • Saat jamuan bisnis, jika tuan rumah makan tanpa menggunakan sendok/garpu, lakukan hal yang sama dan makanlah dengan tangan kanan. Tangan kiri dianggap najis dalam budaya India.

4. Rusia: Waktu itu berharga, tapi jangan lupa bersosialisasi

Orang Rusia menghargai waktu mereka, jadi pastikan untuk datang tepat waktu selama rapat atau janji temu. Jangan hanya muncul untuk bertemu dengan seorang profesional Rusia; pastikan untuk membuat janji terlebih dahulu. Namun, jangan terlalu terkejut jika janji temu Anda dibatalkan dalam waktu singkat. Selama pertemuan, disarankan untuk mengalokasikan waktu untuk sosialisasi sebelum pergi ke diskusi bisnis. Anda dapat menebus waktu yang “hilang” selama perkenalan dengan menawarkan presentasi yang detail dan terorganisir dengan baik.

5. China: Menyinggung dan mudah tersinggung adalah hal yang tidak boleh

Cina memiliki budaya yang beragam dan unik. Jangan berharap untuk menyelaraskan dengan apa yang telah Anda terbiasa. Pertama, Anda harus toleran terhadap volume bicara pengusaha China yang tinggi dan kebisingan kantor dan tempat kerja mereka. Poin penting lainnya yang perlu diingat adalah menghormati ruang pribadi. Sebisa mungkin hindari kontak fisik. Selain itu, makan tidak boleh diperlakukan sebagai pertemuan. Jika Anda diundang untuk makan malam, Anda mungkin memperhatikan bahwa Anda diperkenalkan kepada orang-orang non-bisnis dan diskusinya tidak murni terkait bisnis.

Jika Anda mendirikan toko di Cina, berusahalah untuk beradaptasi tidak hanya dalam cara Anda berurusan dengan pengusaha tetapi juga dengan penduduk setempat. Penerjemahan atau pelokalan eceran dapat sangat membantu dalam hal ini. Pastikan kemasan, merek, dan pemasaran produk Anda sesuai dengan pasar lokal.

6. Jerman: Penekanan pada perencanaan, ketepatan waktu, dan rasa hormat

Jerman adalah negara yang memiliki ketepatan waktu yang tertanam dalam DNA mereka. Jangan pernah terlambat ke pertemuan atau janji temu dengan profesional Jerman. Hormati budaya bisnis Jerman, terutama dalam preferensi mereka untuk memiliki segala sesuatu yang direncanakan dan terorganisir. Mereka tidak suka kejutan atau perubahan mendadak dalam jadwal atau kegiatan yang direncanakan. Selain itu, pahami bahwa orang Jerman ingin bisnis dan kehidupan pribadi mereka jelas berbeda satu sama lain. Hindari berbicara atau berbisnis dengan seorang profesional Jerman saat liburan atau dalam jamuan makan malam keluarga.

7. Australia: Santai tapi tetap bersama

Banyak yang menganggap orang Australia sebagai orang yang santai, yang sebagian besar benar, bahkan dalam cara mereka berbisnis. Namun, santai bukan berarti mereka tidak menghargai ketepatan waktu dan organisasi. Orang Australia benar-benar menjalankan bisnis mereka dengan serius, jadi bersiaplah untuk rapat atau janji temu. Pastikan untuk menunjukkan rasa hormat dan hindari menggunakan posisi kekuasaan sebagai pengungkit saat melakukan negosiasi. Jujurlah dan berikan penekanan pada akal sehat saat melakukan diskusi bisnis. Sebisa mungkin, hindari pendekatan metodis dalam memenangkan negosiasi.

8. Italia: Bisnis berorientasi hubungan

Rasa keluarga Italia terwujud dalam cara mereka melakukan bisnis. Namun, orang Italia juga memiliki rasa formalitas. Berjabat tangan seperti yang dilakukan para profesional. Berpakaian untuk acara tersebut. Bersiaplah ketika mengadakan pertemuan atau janji bisnis. Orang Italia relatif lemah dalam hal waktu, tetapi hindari membuat mereka menunggu. Jika Anda tidak bisa tepat waktu, pastikan untuk memberi tahu mereka sebelumnya dan berikan alasan yang bagus.

9. Uni Emirat Arab: Menekankan kebiasaan Arab

Para pebisnis Arab cenderung berpenampilan mengintimidasi. Anda tidak harus terlihat lemah lembut di hadapan mereka, tetapi pastikan untuk mempelajari kebiasaan mereka sebelum Anda berinteraksi dengan mereka. Perhatikan pakaian khususnya: Untuk pria, Anda tidak akan salah dengan setelan jas, dan warna yang lebih gelap dianggap lebih profesional. Untuk wanita, setelan jas dianjurkan, tetapi rok diperbolehkan selama ujungnya di bawah lutut. Wanita non-Muslim tidak diwajibkan memakai hijab.

Selama percakapan, mulailah dengan diskusi ringan untuk menjalin hubungan dan membangun kepercayaan. Hindari topik kontroversial atau kasar, bahkan ketika Anda hanya didengar oleh rekan bisnis Arab Anda.

10. Belgia: Membina pendekatan egaliter

Orang Belgia terbuka untuk berkompromi, bernegosiasi, dan menggunakan akal sehat dalam berbisnis. Mereka berusaha membangun rasa saling percaya dan biasanya memperlakukan semua orang secara setara tanpa memandang status. Ketepatan waktu dan menghormati waktu satu sama lain sangat penting. Selain itu, mereka cenderung lebih suka berbisnis dengan orang yang sudah mereka kenal. Karena itu, akan menjadi keuntungan untuk memiliki perkenalan pihak ketiga.

Ini sama sekali bukan panduan komprehensif untuk berurusan dengan pengusaha dari latar belakang budaya yang berbeda. Namun, ini harus menjadi pengingat bagi setiap orang untuk belajar menyesuaikan dan memperhatikan perbedaan budaya, karena budaya memainkan peran penting dalam urusan bisnis.